Friday, 3 December 2004

Tujuan Akhir Kita adalah Kehadirat Ilahi

Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani

dalam on the Bridge to Eternity



Bismillahir rahmaanir rahiim… Ini adalah asosiasi

terbaru bersama Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz

ad-Daghestani , walaupun terlambat…



Kami harus mencoba untuk menterjemahkan sesuatu bagi

kalian. Hal ini perlu bagi kalian seperti layaknya

makanan. Kalian membutuhkan makanan untuk kesehatan

tubuh. Kalian harus memasak dan memakan apa yang

Allah ciptakan untuk fisikmu. Tetapi untuk jiwamu

kalian membutuhkan spiritualitas, makanan spiritual.



Sekarang semua agama kecuali Islam, tidak pernah

memberi sesuatu kepada pemeluknya, mereka sudah habis.

Botol yang berada di sini, jika terisi penuh maka

kalian bisa memperoleh sesuatu darinya, tetapi kalau

sudah kosong, apa yang bisa kalian berikan?



Kristen telah berakhir bertahun-tahun yang lalu,

tetapi mereka berusaha untuk melakukan sesuatu agar

tetap menarik. Mereka menggunakan hal-hal yang berbau

omong kosong, tidak berguna, bahkan bodoh kepada

generasi mudanya, yaitu dengan memanfaatkan apa yang

dibutuhkan oleh jasmani kita berupa makanan dan

minuman dan berusaha untuk memenuhi keinginan ego yang

lain. Ego hanya tertarik untuk meraih targetnya

sendiri…



Dewasa ini orang hanya mengejar keinginan jasmaninya

saja. Mungkin kalian akan menemukan satu di antara

sepuluh ribu, atau lima puluh ribu, atau seratus ribu

orang yang mempunyai ketertarikan terhadap

spiritualitas. Dan spiritualitas yang paling tinggi,

yang kualitasnya tidak pernah berkurang hanya dapat

ditemukan dalam Islam. Apa yang telah Allah berikan

kepada Nabi Musa as dan Nabi ‘Isa as adalah sesuatu

yang diberikan untuk tempat dan waktu yang terbatas

kepada para pengikutnya.



Sejak awal, Kristen berusaha untuk memberi apa yang

dibutuhkan orang untuk kehidupan spiritualnya, tetapi

hari demi hari spiritualitas itu semakin berkurang

karena Rasulullah saw yang akan menyempurnakannya.

Beliau memberikan target yang sempurna kepada semua

orang. Islam datang dengan tujuan itu. Oleh sebab

itu Nabi ‘Isa as berkata, “Aku adalah hamba Tuhanmu,

itu saja, dan itulah kemuliaanku.”



Dapatkah seekor semut mengerti siapakah manusia itu?

Tidak pernah. Walaupun dia hidup selama sejuta tahun.

Semakin banyak manusia meminta hikmah dari

Pengetahuan Ilahi, apa yang dapat diambilnya dari sana

akan selalu sedikit. Karena sesuatu yang terbatas,

walaupun tampak besar di mata kita, tetap tidak ada

artinya dalam Samudra Pengetahuan Ilahi Yang Mahaluas…

tetapi orang-orang sangat gila, bagaikan idiot mereka

minta untuk mengetahui siapa Allah atau bagaimana

Allah dan di mana Allah berada…



Di mana Italia? Di mana Jerman? Di mana Amerika? Di

mana Malaysia? Tunjukkan kepada Saya! dan kalian

berkata, “Aku tidak bisa menunjukkannya kepadamu dari

sini sekarang, tetapi ikutlah bersamaku dalam pesawat,

kemudian kita akan terbang dan Aku akan tunjukkan di

mana kampung halamanku.” Oh keledai, jika kalian

hanya ditanya soal Malaysia tetapi perlu untuk naik

pesawat selama 15 jam ke sana, dan setelah itu kalian

tetap tidak tahu… mengapa, atau bagaimana mungkin

kalian berkata, “Tunjukkan Allah kepadaku!”



Dan Saya berkata, “Tunjukkan Saya segala yang berada

di balik langit ini. Tunjukkan kepada Saya di mana

awal ruang angkasa, batas-batasnya, dan di mana

akhirnya… baru akan Saya tunjukkan sesuatu di luar

itu. Kalian membutuhkan 13, 14, atau 15 jam untuk

pergi ke Malaysia… Berapa banyak tahun atau negri atau

jutaan tahun yang kalian perlukan untuk menemukan

titik akhir dari ruang angkasa?



Kemudian Saya akan tunjukkan kepada kalian di mana

Allah berada, Alam Jabarut… Alam Malakut, Alam

Jabarut, Alam Lahut… barulah Saya beberkan semua.

Tetapi orang-orang awam bertanya, “Di mana Allah ?”

Dia-lah yang menciptakan kata ‘di mana’, bagaimana

mungkin kalian bertanya ‘di mana’ kepada-Nya? Dia

yang menciptakan waktu, bagaimana mungkin kalian

bertanya, “Berapa usia-Nya?”



Dan Saya bertanya, “Berapa usia galaksi kita?” Banyak

sekali galaksi yang beredar… Saya berkata, “Naiklah ke

salah satu galaksi itu, sebab mereka semua menuju ke

Kehadirat Ilahi. Ambillah salah satu dari mereka,

mereka semua bergerak dengan arah yang sama. Tak satu

pun yang gerakannya berlawanan dengan yang lain.

Tidak ada kecelakaan dalam lalu lintas surgawi!



Ambillah salah satu, kalian akan mencapai Kehadirat

Ilahi dengannya. Lalu apa bayaranmu? Kalian harus

membayar tiket untuk mengendarai salah satu galaksi.

Kalian harus memberikan tubuhmu sebagai bayarannya,

dengan demikian kalian dapat mengendarai semua

galaksi. Berikan tubuhmu kepada mereka, maka semua

galaksi akan membawamu dengan bebas… mereka

menghormatimu dan membawamu kepada Kehadirat Ilahi.



Di mana Kehadirat Ilahi? Hanya Allah , pemilik

galaksi yang bisa berkata, “Ini adalah stasiun

terakhir bagi galaksi ini. Sekarang dia telah sampai

pada tujuannya. Aku di sini!”



Kabar gembira bagi mereka yang dapat membayar biaya

tiket. Semua galaksi bisa menerimamu dan kalian bisa

melanjutkan perjalanan dengannya. Kemudian Allah swt

berkata, “Berhenti, ini adalah tujuan akhirmu. Aku di

sini. Datanglah kepada-Ku…” Allahu akbar… Dia

menghilangkan Hijab-ul-‘Azamat, Hijab atau Sekat

Kebesaran. Kebesaran Tertinggi adalah untuk Allah .

Sekat ini terbuka dan Allah berkata, “Aku di sini…” Di

mana-mana… Allah Yang Maha Tinggi, Mahabesar… Allah ,

Yang Maha Mengetahui, Maha Perkasa… Segalanya sempurna

bagi-Nya…



Kalian harus mengerti, bahwa semua itu berawal dari

tak hingga sampai tak hingga… dan ketika malaikat

bertanya kepadamu, “Di mana kalian ingin mencapainya?”

Kalian harus menjawab, “Aku bergerak ke tempat tak

hingga (abadi).” “Kalau begitu, datanglah. Siapa yang

meminta keabadian, boleh datang.” Yang meminta hal

lain akan diusir oleh pengumpul tiket, “Pergi. Tempat

ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang meminta

keabadian, pergilah kalian dari sini wahai para

pecinta dunia .”



Wa min Allah at taufiq

No comments:

Post a comment