Friday, 21 January 2005

TuLus.

"Logika menjadi keunggulan manusia diantara makhluk lain. Tetapi justru

perbuatan terbesar manusia: ketulusan; tidak memerlukan logika sama sekali."



Harian Kompas, beberapa hari setelah gelombang Tsunami menghantam Asia,

memasang gambar yang menyentuh. Seorang anak usia sekolah datang ke

Sekretrariat Dana Kemanusiaan Kompas, menyerahkan dua kantung plastik uang

logam untuk disumbangkan bagi korban Tsunami di Aceh dan Sumatera Utara.

Konon uang receh itu adalah uang hasil tabungan si gadis kecil yang ia

sisihkan sedikit demi sedikit selama ini. Begitu melihat tayangan televisi

mengenai para korban Tsunami yang sangat 'mengerikan' itu ia tergerak untuk

menyumbangkan seluruh tabungannya.



Dalam waktu yang berdekatan, sebuah stasiun radio di Jakarta, Female, juga

menuturkan cerita mengharukan: seorang guru Sekolah Dasar datang ke sebuah

toko kain di Pasar Tanah Abang. Ia bermaksud membeli kain kafan untuk para

korban Tsunami di Aceh. Ia dan murid-muridnya tidak tega melihat mayat

korban Tsunami bergelimpangan dan dikubur tanpa penanganan yang layak,

normalnya jasad seorang manusia. Uang 'saweran' yang terkumpul ia belikan

kain kafan, tetapi apa daya ternyata hanya mendapatkan beberapa puluh meter

saja. Wajah kecewa sang Guru mengundang pertanyaan si pedagang.

"Mau buat apa, Pak?"

"Ini ... murid-murid saya mengumpulkan uang, kepingin mengirimkan kain kafan

ke Aceh?" kata Guru itu lirih.

Sang pedagang terdiam sejenak. Ia memang sudah melihat di layar televisi

mengenai para korban yang meninggal di Aceh dan tidak dimakamkan secara

layak.

Sejenak kemudian ia mengangkat telepon dan berbicara dalam bahasa Mandarin.



Selama kain kafan disiapkan, sang Pedagang itu terlihat menelepon beberapa

kali

ke beberapa orang.



Beberapa saat kemudian, beberapa orang tiba-tiba datang membawa kain kafan

ke Kios itu. "Pak ini, teman-teman pedagang di sini titip bantuan kain kafan

juga

untuk disumbangkan ke Aceh ..." katanya kepada sang Guru yang kemudian

tampak terharu sekali menerima bantuan spontan yang melimpah itu. Alhasil,

pulang dari Pasar Tanah Abang, ia harus diantar dengan mobil bak terbuka

untuk membawa kain-kain kafan sumbangan itu.



Apa yang dilakukan gadis kecil di Kompas dan pedagang kain Tanah Abang itu,

benar-benar spontanitas yang tulus.

Alangkah indahnya apabila ketulusan seperti ini senantiasa ada dalam hidup

keseharian kita.

Tidak perlu menunggu datangnya bencana besar untuk berbuat kebaikan dan

sesuatu yang tulus.

Bukankah roh yang sudah ditiupkan ketika manusia diciptakan adalah merupakan

roh kemuliaan, yang membedakan manusia dengan makhluk mana pun di muka bumi?



Satu-satunya keunggulan manusia diantara makhluk ciptaan adalah manusia bisa

memilih untuk melakukan sesuatu yang baik atau sebaliknya.

No comments:

Post a comment