Friday, 7 January 2005

Selamat di Tengah Samudra, Tak Pernah Tinggalkan Shalat

Selamat di tengah laut Rizal ditemukan selamat oleh kapal MV Durban Bridge

yang berlayar dari Afrika, menuju Malaysia, Senin (3/1). Korban berada di

atas ranting tengah laut selama 8 hari (afp).



(Embedded image moved to file: pic23976.jpg)



Selamat di Tengah Samudra, Tak Pernah Tinggalkan Shalat



Rizal Sahputra, terapung di atas ranting di lautan Hindia selama delapan

hari diselamatkan kapal kontainer Senin lalu. Selama di laut, dia hanya

membaca doa dan tidak pernah meninggalkan sholat



Hidayatullah.com--Rizal, 20, pemuda asal Banda Aceh ditemukan anak buah

kapal Durban Bridge Senin (3/1) di atas ranting di tengah samudra. Di

tengah laut, pemuda pemberani ini mengaku hanya minum air laut dan air

hujan. Meski begitu, dirinya mengaku tak pernah berhenti membaca doa dan

memohon semoga selamat dari bencana yang dihadapinya. Yang tak kalah

menarik, Rizal mengaku tak pernah meninggalkan sholat di atas samudra itu

hingga dirinya ditemukan.

Seperti dikutip Berita Harian, Rizal mengaku, ketika Tsunami melanda Banda

Aceh pada pagi hari tanggal 26 Desember lalu, dia bersama beberapa temannya

tengah ikut gotong-royong membuat masjid.



"Ketika sedang membuat masjid, tiba-tiba datang anak-anak yang menjerit

sambil mengatakan, 'lari, ombak besar'. Masya-Allah, saya nampak ombak

besar datang lalu terus berlari dan memanjat sebuah gedung dua tingkat.



"Bagaimanapun, ombak yang datang itu terlalu besar sehingga menyebabkan

semua tenggelam, tinggal saya saja. Kemudian, datang lagi ombak yang lebih

besar, setinggi kira-kira 15 meter dan saya terus dihanyutkan ke laut.



"Ketika itu saya lihat mayat di sekeliling saya. Kiri, kanan semuanya mayat

tetapi saya tidak takut, saya cuma terfikir... jangan-jangan orang tua saya

sudah meninggal. Ya sudah, jika orang tua saya sudah meninggal, apa boleh

buat," katanya.



Setelah terapung-apung di atas ranting di tengah lautan selama delapan

hari, pemuda dengan tinggi 1.67 meter dan berat badan 55 kilogram itu

kemudian ditemukan awak Durban Bridge yang berlabuh di Dermaga 21,

Pelabuhan Utara, Malaysia pada jam 7.30 pagi.



Rizal kemudian diantar dengan ambulans ke Rumah Sakit Tengku Ampuan Rahimah

(HTAR), Klang guna mendapatkan perawatan lebih lanjut dan keadaannya

dilaporkan stabil.



Rizal dijumpai anak kapal Durban Bridge, sekitar 100 mil dari pantai Aceh

dengan hanya memakai kemeja jingga dan menggunakan celana pendek hijau tua.

Saat itu, Rizal sedang berdiri di timbunan ranting yang terapung.



Lambaian tangannya ke arah kapal kemudian terlihat anak buah kapal Durban

Bridge. Seorang anak buah kapal kemudian melemparkan pelampung pada Rizal

yang kemudian terpaksa berenang sejauh kira-kira 100 meter untuk

menghampirinya sebelum dibawa naik.



Kapten kapal itu, Liu Xiang Ping, kemudian mengabarkan penemuan pemuda

pemberani itu kepada pihak pemerintah di pelabuhan Northport dengan

mengirimkan email dan meminta supaya persiapan dilakukan setibanya di

pelabuhan.



Saat ditanya mengenai detik paling menyedihkan baginya sepanjang tragedi

itu, Rizal yang masih kelihatan lemah berkata, hatinya amat pilu apabila

melihat sendiri bagaimana ahli keluarganya ditelan tsunami itu.



"Selain itu, saya juga menyaksikan sendiri bagaimana seorang lagi sahabat

saya yang masih selamat dengan berpaut di timbunan batang yang hanyut,

hilang dan lemas hanya dua hari sebelum saya diselamatkan kapal ini.



"Barangkali, kini semua keluarga saya sudah meninggal dunia. Saya tidak

tahu," katanya sambil kesedihan terbayang di wajahnya tetapi segera

ditahannya dengan mengucapkan syukur kepada Allah.



Rizal yang mengalami banyak luka di kedua-dua belah kaki mengatakan,

sepanjang di laut, dia terpaksa berpaut pada ranting yang menjadi

pelampungnya serta minum air hujan dan air kelapa serta makan makanan yang

terapung di dekatanya.



Ketika hanyut, katanya, dia juga melihat beberapa kapal lewat dan mencoba

memberikan isyarat tertentu guna meminta bantuan tetapi jaraknya sangat

jauh sehingga isysaratnya tak terlihat.



Rizal juga bercerita, dia juga jatuh ke laut beberapa kali bersama ombak

yang kuat pada saat kejadian itu tapi kemudian dia sukses berpaut pada

batang ranting yang kemudian dijadikan sebagai pelampungnya hinga dirinya

ditemnukan.



Keajaiban Allah



Ditanya bagaimana dia bisa terselamat sedangkan hanyut lama di laut, Rizal

hanya berujar, "Segalanya berkat izin dan kebesaran Allah. Allah

mengizinkan saya panjang umur... maka ya, saya panjang umur," katanya.



Sementara itu, pejabat kepolisian Northport, Inspektor Polis Bantuan Abdul

Rashid Harun, mengatakan, Rizal memberitahukan, saat di tengah samudra,

Rizal terus membaca doa menahan lapar bahkan tak pernah meninggalkan sholat

sepanjang terapung di laut.



"Cuma, banyak luka di kedua-dua kakinya dan Rizal nampak lemah serta letih.

Tetapi dia boleh berjalan dan bicara," ujar Abdul Rashid.



Pejabat Northport itu pertama kali menerima pesan mengenai penemuan Rizal

melalui email Durban Bridge sekitar jam 9 pagi. Setelah itu, dirinya segera

memerintahkan pada agen kapal, dan petugas dari Pusat Mencari dan

Menyelamat Maritim (MRCC) untuk menjemput korban.



Keajaiban Allah juga terjadi pada Melawati (23). Jum'at lalu, wanita asal

Nunggayo Tenaom, Aceh Jaya ini ditemukan selamat setelah terapung selama

enam hari di lautan Hindia oleh sebuah perahu bot nelayan Malaysia yang

tengah menangkap ikan tuna.



Melawati kemudian diantar ke Pelabuhan Tuna Antarabangsa Malaysia Batu

Maung, Pulau Pinang sekitar jam 2 petang, Senin (3/1) lalu. (Berita Harian)



From : DT milis

No comments:

Post a comment