Friday, 21 January 2005

Keluarga Semut

Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari cerita di bawah ini.





Pukul 22.30 WIB, huh ... lelahnya aku seharian menyelesaikan pekerjaan

kantor yang tak habis-habisnya. Kurebahkan tubuhku di lantai depan televisi,

sementara kubiarkan TV menyala untuk tetap menjaga agar aku tidak terlelap.

Suhu yang sedikit panas memaksaku membuka kemeja dan membiarkan kulitku

bersentuhan dengan sejuknya lantai.



"aaauww ... brengsek!" gumamku Segera kutepis sesuatu yang menggigit lenganku

hingga ia terjatuh di lantai, ternyata seekor semut hitam.



"Kurang ajar! Apa ia tidak mengerti kepalaku begitu penat dan tubuhku ini

seperti mau hancur? Apa ia juga tidak tahu kalau aku sedang beristirahat?"

pikirku seraya kembali merebahkan tubuhku.

Tapi, belum sampai seluruh tubuh ini jatuh menempel lantai, "addduuhhh!"

Lagi-lagi semut kecil itu menggigitku. Kali ini punggungku yang digigitnya

dan

gigitannya pun lebih sakit. "heeeh, berani sekali makhluk kecil ini,"

gerutuku

kesal.



Ingin rasanya kulayangkan tapak tangan ini untuk membuatnya mati tak berkutik

'mejret' di lantai. Namun sebelum tanganku melayang, ia justru sudah

mengacung-acungkan kepalan tangannya seperti menantangku bertinju. Kuturunkan

kembali tanganku yang sudah berancang-ancang dengan jurus 'tepokan maut',

kuurungkan niatku untuk menghajarnya karena kulihat mulutnya yang komat-kamit

seolah mengatakan sesuatu kepadaku. Awalnya aku tidak mengerti apa yang

diucapkannya, tapi lama kelamaan aku seperti memahami apa yang diucapkannya.



"Hey makhluk besar, anda menghalangi jalan saya! Apa anda tidak lihat saya

sedang membawa makanan ini untuk keluarga saya di rumah ..." Rupanya ia

begitu marah karena aku menghambat perjalanannya, lebih-lebih sewaktu punggungku

menindihnya sehingga ia harus terpaksa menggigitku.



Akhirnya kupersilahkan ia melanjutkan perjalanannya setelah sebelumnya aku

meminta maaf kepadanya. Susah payah ia membawa sisa-sisa roti bekas sarapanku

pagi tadi yang belum sempat kubersihkan dari meja makan. Kadang oleng ke

kanan

kadang ke kiri, sesekali ia berhenti meletakkan barang bawaannya sekedar

mengumpulkan tenaganya sembari membasuh peluhnya yang mulai membasahi tubuh

hitamnya.



Kuikuti terus kemana ia pergi. Ingin tahu aku di pojok mana ia tinggal dari

bagian rumahku ini. Ingin kutawarkan bantuan untuk membantunya membawakan

makanan itu ke rumahnya, tapi aku yakin ia pasti menolaknya. Berhentilah

ia di

sebuah sudut di samping lemari es sebelah dapur. Di depan sebuah lubang kecil

yang menganga, ia letakkan bawaannya itu dan kulihat seolah ia sedang

memanggil-manggil semut-semut di dalam lubang itu. Satu, dua, tiga .... empat

dan .... lima semut-semut yang tubuhnya lebih kecil dari semut yang membawa

makanan itu berlarian keluar rumah menyambut dengan sukaria makanan yang

dibawa

semut pertama itu. Dan, eh ... satu lagi semut yang besarnya sama dengan

pembawa roti keluar dari lubang. Dengan senyumnya yang manis ia mendekati si

pembawa roti, menciumnya, memeluknya dan membasuh keringat yang sudah

membasahi

seluruh tubuh semut pembawa makanan itu.

Hmmm ... menurutku, si pembawa roti itu adalah kepala keluarga dari

semut-semut

yang berada di dalam lubang tersebut. Kelima semut-semut yang lebih kecil

adalah anak-anaknya sementara satu semut lagi adalah istri si pembawa

roti, itu

terlihat dari perutnya yang agak buncit. "Mungkin ia sedang mengandung

anak ke

enamnya" pikirku.



Semut suami yang sabar, ikhlas berjuang, gigih mencari nafkah dan penuh kasih

sayang. Semut istri tawadhu' dan qonaah menerima apa adanya dengan penuh

senyum setiap rizki yang dibawa oleh sang suami, juga ibu yang selalu memberikan

pengertian dan mengajarkan anak-anak mereka dalam mensyukuri nikmat Tuhannya.

Dan, anak-anak semut itu, subhanallah ... mereka begitu pandai berterima

kasih dan menghargai pemberian ayah mereka meski sedikit. Sungguh suami yang

dibanggakan, sungguh istri yang membanggakan dan sungguh anak-anak yang

membuat

ayah ibunya bangga.



Astaghfirullah ..., tiba-tiba tubuhku menggigil, lemas seperti tiada daya dan

brukkk .... aku tersungkur. Kuciumi jalan-jalan yang pernah dilalui

semut-semut itu hingga menetes beberapa titik air mataku. Teringat semua di mataku ribuan

wajah semut-semut yang pernah aku hajar 'mejret' hingga mati berkalang lantai

ketika mereka mencuri makananku. Padahal, mereka hanya mengambil sisa-sisa

makanan, padahal yang mereka ambil juga merupakan hak mereka atas rizki yang

aku terima.



Air mataku makin deras mengalir membasahi pipi, semakin terbayang

tangisan-tangisan anak-anak dan istri semut-semut itu yang tengah menanti

ayah

dan suami mereka, namun yang mereka dapatkan bukan makanan melainkan justru

seonggok jenazah.



Ya, Allah ... keluarga semut itu telah mengajarkan kepadaku tentang

perjuangan

hidup, tentang kesabaran, tentang harga diri yang harus dipertahankan ketika

terusik, tentang bagaimana mencintai keluarga dan dicintai mereka. Mereka

ajari

aku caranya mensyukuri nikmat Tuhan, tentang bagaimana perlunya ikhlas,

sabar,

tawadhu' dan qonaah dalam hidup.



Hari-hari selanjutnya, ketika hendak merebahkan tubuh di lantai di bagian

manapun rumahku aku selalu memperhatikan apakah aku menghambat dan

menghalangi

langkah atau jalan makhluk lainnya untuk mendapatkan rizki. Ingin rasanya aku

hantarkan sepotong makanan setiap tiga kali sehari ke lubang-lubang tempat

tinggal semut-semut itu. Tapi kupikir, lebih baik aku memberinya jalan atau

bahkan mempermudahnya agar ia dapat memperoleh dengan keringatnya sendiri

rizki tersebut, karena itu jauh lebih baik bagi mereka.

No comments:

Post a Comment